Sertifikat Tanah- Tentang Akta Jual Beli (AJB) - Mitra Arsitek Official

Postingan Pilihan

Home Top Ad

Post Top Ad

14/09/15

Sertifikat Tanah- Tentang Akta Jual Beli (AJB)



Tentang Akta Jual Beli (AJB)

Akta Jual Beli sebenarnya menunjukan tentang perjanjian jual beli yang terjadi. Oleh karena dalam perjanjian berlaku undang-undang bagi pembuatnya (Pacta Sunt Servanda) sehingga AJB merupakan salah satu bukti pengalihan hak atas tanah sebagai akibat dari jual beli. AJB dapat terjadi dalam berbagai bentuk bukti kepemilikan tanah baik SHM, Hak Guna, Girik, maupun Eigendom. Oleh karena itu apabila anda hendak membeli properti dimana menurut pemilik bahwa bukti kepemilikan adalah AJB maka anda harus memperjelas sebelumnya bukti kepemilikannya berupa SHM, Hak Guna, Girik, ataupun Eigendom. Berikut ini contoh dari AJB yang sering ada pada transaksi jual beli tanah:

AJB atas SHM yang belum dipecah
AJB diatas tanah SHM biasanya terjadi ketika anda membeli tanah kavling dimana pemilik kavling tidak ingin terbebani biaya pemecahan sertifikat sehingga menunggu inisiatif pembeli untuk bersama-sama mengurus pemecahan sertifikat. Jenis AJB ini biasanya relatif aman dalam pengurusan administrasinya kelak namun perlu dipastikan ke Kantor BPN bahwa Sertifikat Hak Milik atas tanahnya harus asli dan pemegang haknya benar-benar penandatangan AJB. Masalah yang sering terjadi adalah pembeli tidak segera memecah sertifikat pemilik sehingga ketika pemilik meninggal maka proses pemecahan sertifikat harus melibatkan ahli waris sehingga memakan waktu cukup lama
  
AJB atas HGB
Sama halnya seperti AJB diatas SHM hanya saja anda tidak memiliki hak milik melainkan hanya hak guna seperti penjelasan kami sebelumnya. Permasalahannya pun juga sama dan sedikit lebih rumit.

AJB diatas tanah Eigendom, Girik, atau Petok
Seperti penjelasan kami sebelumnya tentang Eigendom, Girik, atau Petok seharusnya kepemilikan itu harus segera dikonversi menjadi SHM. Memutuskan membeli dengan bukti AJB diatas tanah Eigendom, Girik, atau Petok perlu memastikan apakah Eigendom, Girik, atau Petok ke banyak pihak (sedangkan untuk SHM hanya perlu memastikan ke BPN) antara lain kantor desa, saksi-saksi, serta bukti-bukti lain. Proses pemecahannya menjadi sangat panjang karena pemilik atau ahli waris harus melakukan konversi Eigendom, Girik,atau Petok ke SHM kemudian baru dilakukan pemecahan sertifikat.

Bukti kepemilikan berupa AJB saja biasanya sangat rentan terjadinya penipuan AJB berganda yaitu SHM dipecah dan dijual dengan AJB pada obyek yang sama

===========================================
Demikian artikel ini , semoga dapat memberikan manfaat bagi teman-teman dan mohon dishare untuk  memberikan manfaat bersama (klik icon share dibawah). Untuk informasi produk mitra arsitek, silahkan visit di Kios Arsitek

Post Bottom Ad